Pemerintah Indonesia resmi melakukan groundbreaking proyek Blok Masela pada Kamis (16/7), menandai dimulainya pembangunan fisik salah satu proyek gas terbesar di Indonesia. Melansir data Kementerian ESDM, proyek yang telah tertunda selama 28 tahun sejak 1998 tersebut kini memasuki tahap konstruksi.
Adapun nilai investasi Blok Masela mencapai US$ 20,94 miliar atau setara Rp 378 triliun dengan asumsi kurs Rp 18.054 per dolar AS. Kementerian ESDM menjelaskan, pemanfaatan gas dari Blok Masela akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor dengan porsi masing-masing sebesar 60% dan 40%.
Selain untuk kebutuhan energi nasional, pasokan gas dari proyek ini juga akan dimanfaatkan sebagai bahan baku hilirisasi PT Pupuk Indonesia, serta memasok kebutuhan PT PLN (Persero), PT PGN, dan sejumlah perusahaan swasta.
Dari sisi ekonomi, Kementerian ESDM memperkirakan Blok Masela akan menghasilkan nilai tambah bruto sebesar US$ 137 miliar selama masa operasional. Proyek ini juga diproyeksikan memberikan manfaat fiskal berupa pendapatan negara langsung sekitar US$ 37,8 miliar serta penerimaan pajak tidak langsung sebesar US$ 6,43 miliar sepanjang masa konstruksi dan operasi.
Selain memperkuat pasokan energi, proyek ini juga diperkirakan menciptakan dampak sosial melalui pembukaan lapangan kerja. Paparan Kementerian ESDM menyebutkan Blok Masela akan menyerap lebih dari 12 ribu tenaga kerja langsung selama masa konstruksi serta sekitar 800 hingga 1.000 tenaga kerja pada masa operasional.
Setelah menunggu hampir tiga dekade, dimulainya pembangunan fisik Blok Masela diharapkan menjadi momentum percepatan pengembangan sektor migas nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pemanfaatan yang lebih optimal bagi kebutuhan domestik.