Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Bali telah berlangsung selama sekitar dua pekan sejak pertama kali dilaporkan pada 8 Juni 2026. PT PLN (Persero) mengonfirmasi bahwa gangguan di sistem kelistrikan Jawa dipicu oleh masalah teknis pada dua pembangkit listrik besar yang dioperasikan oleh Independent Power Producer (IPP), sehingga keduanya harus keluar sementara dari sistem. Selain itu, pasokan batu bara kalori menengah (medium range coal) yang terganggu turut memengaruhi ketersediaan energi listrik.
Pemadaman listrik yang terjadi secara luas menimbulkan efek domino terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari industri skala menengah dan besar hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gangguan pasokan listrik tidak hanya menghambat aktivitas operasional, tetapi juga meningkatkan biaya usaha dan menekan pendapatan pelaku usaha.
Industri Perhotelan: Kenaikan Biaya Operasional dan Kerusakan Peralatan
Bagi industri perhotelan, keandalan pasokan listrik menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan tamu dan kualitas layanan. Namun, pemadaman listrik memaksa pelaku usaha hotel menanggung beban biaya tambahan.
Fluktuasi tegangan yang terjadi saat listrik padam maupun ketika aliran listrik kembali normal menyebabkan kerusakan pada berbagai peralatan elektronik. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sedikitnya 4–5 hotel anggota PHRI melaporkan kerusakan perangkat elektronik yang memerlukan biaya perbaikan maupun penggantian.
Selain itu, untuk menjaga operasional tetap berjalan, hotel harus mengandalkan generator set (genset). Penggunaan genset secara intensif menyebabkan biaya operasional meningkat sekitar 15%–25%, terutama akibat tingginya konsumsi bahan bakar, meningkatnya biaya perawatan fasilitas, serta berbagai pengeluaran tambahan yang timbul akibat gangguan kelistrikan.
Sektor UMKM: Penurunan Pendapatan dan Risiko Kerugian Usaha
Dampak yang lebih berat dirasakan oleh pelaku UMKM yang umumnya memiliki keterbatasan dalam menyediakan sumber listrik cadangan. Akibatnya, pemadaman listrik secara langsung mengganggu proses produksi dan pelayanan usaha.
Di Jawa Tengah, lebih dari 7.000 pelaku UMKM dilaporkan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Kerugian terbesar dialami oleh pelaku usaha makanan dan minuman, seperti pedagang roti dan jasa katering, yang sangat bergantung pada peralatan berbasis listrik dalam proses produksi.
Sementara itu, pendapatan harian pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Kota Bandung dilaporkan turun hingga 50%. Dampak serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha bengkel motor di Kota Semarang, yang pendapatannya merosot dari sekitar Rp20 juta per hari menjadi hanya Rp6 juta per hari akibat terganggunya operasional peralatan kerja.
Di sektor konveksi, pemadaman listrik menyebabkan terhentinya aktivitas produksi sehingga pelaku usaha diperkirakan mengalami kerugian sekitar 10% dari omzet. Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari hilangnya potensi penjualan, tetapi juga dari risiko denda akibat keterlambatan penyelesaian dan pengiriman pesanan kepada pelanggan.
Berbagai dampak tersebut menunjukkan bahwa keandalan pasokan listrik merupakan faktor penting bagi kelangsungan operasional dan kinerja dunia usaha. Gangguan pasokan listrik yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan biaya produksi, menurunkan pendapatan, serta mengurangi daya saing pelaku usaha.