Pemadaman listrik bergilir di berbagai wilayah Jawa sejak 8 Juni 2026 menimbulkan kerugian ekonomi, terutama bagi dunia usaha. Pemadaman berlangsung selama 3 hingga 5 jam dengan tujuan menjaga keandalan sistem kelistrikan dan meningkatkan kualitas layanan. Namun, dampak yang ditimbulkan dinilai lebih besar dibandingkan potensi manfaat yang diperoleh.
Ekonomi Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) menyebutkan industri manufaktur menjadi sektor yang paling terdampak akibat pemadaman listrik bergilir. Menurut ISEAI, gangguan pasokan listrik berpotensi menurunkan produktivitas industri serta meningkatkan risiko kerusakan bahan baku dan mesin, khususnya pada industri makanan dan minuman, kimia, serta tekstil.
Selain itu, pemadaman juga menghambat proses produksi, mengganggu jadwal pengiriman dan rantai pasok, serta menambah biaya operasional akibat penggunaan sistem cadangan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan daya saing industri karena biaya energi yang lebih tinggi dan kebutuhan penyediaan genset tambahan.
ISEAI juga mencatat bahwa industri petrokimia, baja, semikonduktor, dan farmasi turut terdampak karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan proses operasional ke kondisi normal setelah listrik kembali menyala. Sementara itu, sektor telekomunikasi dan data center menghadapi risiko restart server yang tidak terkontrol sehingga dapat merusak perangkat elektronik yang sensitif. Pemadaman juga meningkatkan beban penggunaan UPS dan genset yang berpotensi mempercepat penurunan umur peralatan.
Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melaporkan UMKM menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena umumnya tidak memiliki sumber listrik cadangan. Kondisi tersebut menghambat aktivitas produksi, pelayanan, dan transaksi sehingga berpotensi menurunkan omzet harian, terutama pada sektor ritel, kuliner, dan jasa digital yang bergantung pada pasokan listrik.
Selain itu, pengusaha ikan hias juga mengalami kerugian karena pemadaman mengganggu operasional aerator yang memasok oksigen ke kolam maupun akuarium, sehingga meningkatkan risiko ikan mengalami stres hingga mati, terutama apabila pemadaman berlangsung dalam waktu lama.