Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal yang beragam pada pertengahan 2026. Melansir data S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 turun ke level 46,90 dari 50 pada Mei 2026. Penurunan tersebut menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase kontraksi setelah sebelumnya masih berada di zona ekspansi.
Di sisi lain, Bank Indonesia masih mencatat kondisi berbeda, dengan PMI Manufaktur Bank Indonesia pada triwulan III-2026 berada di level 51,43%, meski lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 52,03%.
Menurut S&P Global, pelemahan PMI dipicu oleh menurunnya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia selama Juni 2026. Pesanan baru mengalami kontraksi pertama dalam tiga bulan dengan laju penurunan terdalam dalam setahun karena pelaku usaha menilai tekanan harga telah mengurangi daya beli masyarakat. Permintaan dari pasar ekspor juga kembali melemah akibat kenaikan harga, bahkan penurunannya menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021.
Berkurangnya pesanan baru turut membantu perusahaan menyelesaikan backlog pekerjaan sehingga volume pekerjaan yang belum terselesaikan menurun untuk ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir. Lemahnya permintaan juga mendorong perusahaan memangkas output selama empat bulan berturut-turut dengan penurunan terdalam sejak April 2025, diikuti penurunan persediaan barang jadi selama dua bulan berturut-turut dengan laju yang lebih cepat dibanding Mei.
S&P Global juga mencatat produsen meningkatkan pengurangan jumlah tenaga kerja pada Juni 2026, dengan laju PHK menjadi yang terbesar sejak September 2021. Aktivitas pembelian bahan baku terus mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021. Selain lemahnya permintaan, kenaikan harga bahan baku juga membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian input produksi.
Berbeda dengan hasil survei S&P Global, Bank Indonesia menilai aktivitas manufaktur nasional masih berada pada fase ekspansi. Menurut Bank Indonesia, mayoritas komponen pembentuk PMI masih tumbuh, meliputi Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan.
Berdasarkan Sublapangan Usaha (Sub-LU), sebagian besar subsektor juga berada pada zona ekspansi, dengan indeks tertinggi berasal dari Industri Mesin dan Perlengkapan, disusul Industri Makanan dan Minuman, Industri Logam Dasar, serta Industri Barang Galian Bukan Logam.
Bank Indonesia bahkan memproyeksikan PMI Manufaktur pada triwulan III-2026 meningkat menjadi 52,32%, didorong oleh kinerja Industri Mesin dan Perlengkapan, Industri Pengolahan Tembakau, serta Industri Alat Angkutan. Perbedaan hasil survei tersebut menunjukkan bahwa kondisi manufaktur masih menghadapi tantangan di sisi permintaan, namun sejumlah indikator domestik masih mencerminkan prospek ekspansi yang tetap terjaga.