UMKM memiliki kontribusi yang signifikan bagi perekonomian di Asia Tenggara. INDEF mengungkapkan bahwa perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu indikator penting dalam memperkuat fondasi perekonomian suatu negara karena mampu mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif.
Dalam laporan bertajuk "Strategi Peningkatan Produktivitas dan Pendanaan UMKM" yang dirilis pada 2022, INDEF mencatat UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Asia Tenggara. Laporan tersebut menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi sebesar 41,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional di Asia Tenggara pada 2021.
Besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari dominasi UMKM yang mencapai 97,2% dari total unit usaha di kawasan. Selain itu, sektor ini juga menyerap 69,4% dari total tenaga kerja pada periode yang sama, meskipun kontribusinya terhadap ekspor nasional masih berada di level 20,4%.
Meski memiliki peran strategis, INDEF menemukan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara. Pada 2018, produktivitas tenaga kerja Indonesia tercatat sebesar US$ 0,01 juta per tenaga kerja atau sekitar US$ 5 ribu per tenaga kerja. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam yang mencapai US$ 48 ribu per tenaga kerja maupun Thailand sebesar US$ 15 ribu per tenaga kerja.
Sementara itu, Singapura menjadi negara dengan tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi di kawasan. Temuan INDEF menunjukkan produktivitas tenaga kerja Singapura mencapai US$ 60 ribu per tenaga kerja.
Temuan di atas menggambarkan bahwa meskipun UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja, peningkatan produktivitas masih menjadi tantangan penting bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing di tingkat regional.