Proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara pada 2026 menunjukkan tren perlambatan di hampir seluruh negara utama. Kondisi ini dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas, meningkatnya hambatan perdagangan, serta tingginya ketidakpastian kebijakan ekonomi global. Selain itu, kinerja ekspor yang kembali melemah setelah sempat menggeliat menjelang kenaikan tarif turut menekan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.
Kenaikan harga energi diperkirakan meningkatkan biaya input di banyak negara dan mendorong inflasi, sehingga melemahkan daya beli masyarakat. Ketidakpastian kebijakan perdagangan juga diproyeksikan berlanjut, yang pada akhirnya menahan investasi dan perekrutan tenaga kerja oleh sektor swasta. Meskipun sebagian besar negara masih mencatat pertumbuhan positif, laju ekspansi ekonomi pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update Edisi April 2026, Vietnam diproyeksikan tetap mencatat pertumbuhan tertinggi di kawasan sebesar 6,3 persen, meskipun melambat dari 8,0 persen pada 2025. Indonesia diperkirakan tumbuh 4,7 persen, turun dari 5,1 persen, dengan tekanan dari harga minyak yang tinggi dan sentimen pasar global, meski sebagian tertopang oleh pendapatan komoditas dan investasi pemerintah. Malaysia dan Filipina juga mengalami perlambatan masing-masing menjadi 4,4 persen dan 3,7 persen.
Thailand mencatat perlambatan terdalam, dengan pertumbuhan hanya 1,3 persen, dipengaruhi oleh tekanan eksternal serta faktor domestik seperti tingginya utang rumah tangga dan pemulihan pariwisata yang masih terbatas. Sementara itu, Kamboja dan Laos masing-masing diproyeksikan tumbuh 3,9 persen dan 3,5 persen, juga lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak kenaikan harga energi, dengan meningkatnya biaya transportasi dan logistik yang turut mendorong kenaikan harga pangan. Di sisi lain, Myanmar menunjukkan perbaikan dari kontraksi 1,3 persen pada 2025 menjadi tumbuh 2,0 persen pada 2026. Namun, pertumbuhan tersebut masih mencerminkan kondisi ekonomi yang rapuh akibat tekanan struktural dan eksternal yang berkepanjangan.
Secara keseluruhan, perlambatan ini mencerminkan dampak dari ketidakpastian global, kenaikan harga energi, serta melemahnya permintaan eksternal. Dengan demikian, meskipun pertumbuhan masih berlanjut, kawasan Asia Tenggara diperkirakan memasuki fase moderasi setelah periode pemulihan sebelumnya.