Pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menjelang tinjauan aksesibilitas pasar modal Indonesia oleh MSCI pada 18 Juni 2026. Perhatian investor tertuju pada evaluasi MSCI sebelumnya yang menyebabkan 7 saham Indonesia keluar dari indeks MSCI Global Standard sehingga hanya menyisakan 11 saham Indonesia dalam indeks tersebut.
Perubahan komposisi ini berdampak pada penurunan porsi Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets. Melansir data MSCI per 29 Mei 2026, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets tercatat sebesar 0,50%. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 0,75% akibat keluarnya sejumlah saham Indonesia dari berbagai kategori indeks MSCI. Penurunan bobot ini turut memengaruhi alokasi investasi global yang mengacu pada indeks tersebut.
Sebagai perbandingan, Taiwan menjadi negara dengan bobot terbesar dalam MSCI Emerging Markets sebesar 26,41%. Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan sebesar 23,06% dan China sebesar 20,36%. Sementara itu, India memiliki bobot 10,87% dan Brazil sebesar 3,90%. Berkurangnya porsi Indonesia di indeks MSCI turut berdampak pada arus keluar dana asing yang mencapai US$ 1,5 miliar dan terkonsentrasi pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Di tengah kondisi tersebut, Samuel Sekuritas Indonesia menilai skenario dasar yang paling mungkin terjadi adalah Indonesia tetap mempertahankan status emerging market tanpa masuk dalam daftar pemantauan atau watchlist MSCI.
Menurut Samuel Sekuritas, evaluasi MSCI pada Agustus 2026 akan menjadi ujian awal untuk melihat apakah normalisasi status Indonesia mulai tercermin dalam komposisi indeks. Dengan risiko aksi jual paksa yang mulai mereda dan valuasi pasar saham Indonesia yang dinilai relatif sangat murah, arus dana asing berpeluang kembali masuk apabila hasil tinjauan MSCI memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.