Standar ESG Perbankan RI Masih Tertinggal, TCFD Jadi Tantangan Baru

Jumat, 22 Mei 2026 | 10:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Standar ESG Perbankan RI Masih Tertinggal, TCFD Jadi Tantangan Baru
Peluang & Tantangan hingga Strategi Pemenuhan Standar TCFD, 2026

Perbankan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi standar TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosures), yakni standar global terkait pengelolaan serta keterbukaan risiko perubahan iklim di sektor keuangan. Penilaian WWF SUSBA menunjukkan delapan bank terbesar di Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam memenuhi seluruh kriteria TCFD, terutama terkait pengungkapan risiko iklim, tata kelola ESG, hingga integrasi risiko transisi ke sistem pembiayaan dan permodalan.

Melansir paparan S&P Global Ratings bersama PEFINDO bertajuk "Indonesia Credit Spotlight 2026: Navigating Geopolitical Headwinds and Domestic Resilience", implementasi pembiayaan rendah karbon di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya yakni kualitas data untuk pelaporan emisi pembiayaan berbasis standar PCAF yang membutuhkan data nasabah secara lengkap dan sistematis, sementara banyak lembaga keuangan belum memilikinya. 

Peluang & Tantangan hingga Strategi Pemenuhan Standar TCFD, 2026 - (S&P Global Ratings & PEFINDO/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)
Peluang & Tantangan hingga Strategi Pemenuhan Standar TCFD, 2026 - (S&P Global Ratings & PEFINDO/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan karena tim sustainability di perbankan masih minim dan banyak lembaga keuangan nonbank belum memiliki divisi ESG khusus. Di sisi lain, insentif keuntungan dari instrumen hijau dinilai masih kecil dan belum konsisten, ditambah Indonesia belum memiliki skema hibah ESG seperti yang diterapkan di sejumlah negara maju seperti di Singapura hingga Hong Kong.

Padahal, peluang pengembangan ESG di Indonesia dinilai masih besar. Paparan S&P Global Ratings bersama PEFINDO menyebutkan nilai outstanding obligasi dan sukuk berkelanjutan mencapai US$ 17,5 miliar. Tingginya minat investor juga terlihat dari obligasi sosial BRI yang mengalami oversubscribe sebesar 1,31x. 

Selain itu, pembiayaan transisi terus berkembang setelah TKBI versi 2 mengakomodasi skema transisi energi yang dinilai sesuai dengan struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sektor intensif karbon. Pasar karbon dan investasi berkelanjutan juga mulai berkembang ditandai dengan beroperasinya IDXCarbon serta meningkatnya dana ESG dan deposito hijau.

Dalam paparan tersebut, terdapat sejumlah strategi untuk memperkuat implementasi standar TCFD pada periode 2026-2027. Salah satunya yakni mengubah cara pandang ESG menjadi bagian dari manajemen risiko. Risiko tersebut mencakup risiko transisi iklim seperti stranded asset atau aset yang kehilangan nilai akibat perubahan kebijakan dan tren energi. Sedangkan, risiko fisik berupa penurunan nilai jaminan akibat dampak perubahan iklim, hingga risiko tata kelola yang berupa reputasi dan hukum. 

Selain itu, ESG dinilai perlu diintegrasikan ke kerangka manajemen risiko yang sudah ada melalui ICAAP, stress test berbasis iklim dari NGFS, hingga pengukuran emisi pembiayaan menggunakan standar PCAF. Dengan integrasi tersebut, ESG diharapkan menjadi bagian permanen dalam sistem keuangan dan tetap berjalan meski terjadi perubahan pemerintahan maupun dinamika politik.

Data Terkait

potensi-nikel-ri-dorong-kemandirian-energi-hilirisasi-hijau-jadi-kunci
Ekonomi

Potensi Nikel RI Dorong Kemandirian Energi, Hilirisasi Hijau Jadi Kunci

RI punya 23% cadangan nikel dunia, namun hilirisasi masih hadapi emisi 57-70 ton CO₂/ton dan tantangan ESG. Reformasi kebijakan dan EBT jadi kunci.

13 Apr 2026

nilai-perusahaan-jadi-alasan-utama-menerapkan-esg
Ekonomi

Nilai Perusahaan Jadi Alasan Utama Menerapkan ESG

Mayoritas perusahaan mengimplementasikan ESG karena telah menjadi nilai perusahaan (87%) serta untuk memenuhi kepatuhan regulasi (80%).

1 Des 2025

minim-dukungan-regulator-jadi-kendala-utama-penerapan-esg
Ekonomi

Minim Dukungan Regulator Jadi Kendala Utama Penerapan ESG

Sebanyak 58% perusahaan mengaku bahwa kurangnya dukungan dari regulator dan masalah biaya menjadi hambatan utama dalam penerapan ESG dalam praktik bisnis.

26 Nov 2025

perusahaan-ingin-bei-gelar-pelatihan-laporan-keberlanjutan
Ekonomi

Perusahaan Ingin BEI Gelar Pelatihan Laporan Keberlanjutan

Mayoritas perusahaan berharap BEI adakan lokakarya & pelatihan penyusunan laporan keberlanjutan (88%), sementara 68% perusahaan juga membutuhkan bimbingan teknis dari BEI.

20 Nov 2025

gri-menjadi-standar-utama-pelaporan-esg-di-perusahaan
Ekonomi

GRI Menjadi Standar Utama Pelaporan ESG di Perusahaan

Sebanyak 86% perusahaan mengadopsi Global Reporting Initiative (GRI) untuk pelaporan ESG, sementara hanya 6% yang berpatokan pada regulasi pemerintah.

18 Nov 2025

10-emiten-dengan-risiko-esg-terendah
Ekonomi

10 Emiten dengan Risiko ESG Terendah

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat skor risiko ESG terendah di Bursa Efek Indonesia, yakni 7,11 yang tergolong berisiko sangat rendah sekali.

18 Nov 2025