Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus angka 17.614 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 mulai memicu efek domino terhadap stabilitas harga pangan domestik. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag) Lonjakan harga paling signifikan secara persentase terjadi pada sektor hortikultura, dipimpin oleh cabai merah besar yang melesat 30,97% menjadi 49.587 per kilogram, serta cabai merah keriting yang melonjak 28,04% ke angka 46.139 per kilogram.
Komoditas pokok lain yang juga ikut merangkak naik di antaranya minyak goreng sawit kemasan premium sebesar 3,07% menjadi 22.156 per liter, minyak goreng curah naik 2,46% menjadi 19.609 per liter, serta kedelai impor yang naik menjadi 13.595 per kilogram. Kenaikan tipis namun berdampak luas juga terlihat pada beras medium dan premium yang masing-masing naik menjadi 13.757 dan 15.399 per kilogram.
Sebaliknya, beberapa komoditas justru mencatatkan tren penurunan harga di tengah fluktuasi mata uang ini. Penurunan terdalam dialami oleh sektor peternakan, di mana harga telur ayam ras merosot hingga 7,80% menjadi 28.005 per kilogram, disusul daging ayam ras yang turun 5,16% ke angka 37.395 per kilogram. Selain itu, cabai rawit merah dan bawang putih honan juga terpantau mengalami koreksi harga masing-masing sebesar 6,54% dan 4,45%, memberikan sedikit ruang napas di tengah tren penyesuaian harga pangan nasional.
Tren pelemahan rupiah yang saat ini tengah terjadi memicu adanya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional. "Kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menyesuaikan kembali pengeluaran rumah tangga dan rencana finansial yang telah disusun sebelumnya. Kondisi itu turut mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama dengan mulai dikuranginya kebutuhan sekunder demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga," ujar Sosiolog Universitas Gadjah Mada Arie Sujito, sebagaimana dilansir dari Berita Satu (20/5). Pemerintah diminta untuk segera menyiapkan langkah strategis agar krisis tidak melebar.