Tren inflasi dalam lima tahun terakhir menunjukkan kenaikan saat Ramadan hingga Lebaran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2025 terjadi lonjakan tajam dari deflasi 0,48% month to month (mtm) menjadi inflasi 1,65% mtm pada Maret. Pada 2022, inflasi Maret tercatat 0,66% mtm dan meningkat menjadi 0,95% mtm saat memasuki Ramadan.
Pada 2026, tekanan pada harga bahan pangan diproyeksikan lebih besar dibandingkan tahun lalu dipicu oleh lonjakan tarif energi, kenaikan permintaan musiman, serta penyerapan komoditas untuk program pemerintah dapat mempercepat laju kenaikan harga.
Adapun bahan pangan seperti daging ayam dan telur diperkirakan menghadapi tekanan paling signifikan karena pasokan harus dibagi antara konsumsi rumah tangga dan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, cabai dan bawang merah dikenal rentan terhadap gangguan cuaca dan distribusi. Akibatnya, harga di tingkat pasar bisa melonjak meskipun secara nasional ketersediaan stok terbilang cukup.
Ramadan yang berlangsung pada pertengahan Februari hingga Maret juga memperpanjang fase konsumsi tinggi. Belanja masyarakat sudah meningkat sejak periode libur sebelumnya, sehingga permintaan memasuki bulan puasa dalam kondisi yang telah menguat. Jika distribusi dan kesiapan stok di daerah tidak diperkuat, lonjakan musiman ini berisiko meningkatkan inflasi pangan hingga menekan kelompok berpenghasilan rendah.