Dunia saat ini berada dalam pusaran ketidakpastian yang hebat. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya mengancam stabilitas keamanan, tetapi juga mengganggu jalur logistik energi dan pangan global. Di sisi lain, fenomena iklim "Godzilla El Nino" juga mulai mengancam produktivitas lahan pertanian.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per 16 April 2026, kelompok minyak goreng menjadi sorotan utama. Minyak Goreng Sawit Curah mencatat lonjakan signifikan sebesar 8,06% (ytd) ke angka Rp19.437 per liter. Kontras dengan itu, Minyakita secara year to date (ytd) turun 5,36%, meskipun dalam satu bulan terakhir mulai merangkak naik tipis 0,62% ke level Rp15.974 per liter.
Kabar baik datang dari sektor hortikultura yang turun tajam. Harga cabai rawit merah turun 20,36% dalam sebulan terakhir, diikuti oleh cabai merah besar (-17,01%) dan cabai merah keriting (-16,18%). Penurunan ini memberikan ruang napas bagi daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga pangan pokok lainnya. Sementara itu, beras menunjukkan kenaikan tipis namun konsisten, menjadi alarm dini bagi ketahanan stok nasional.
Secara keseluruhan, Indonesia menghadapi ujian ganda: menjaga stabilitas harga dari gejolak global dan meredam dampak kekeringan ekstrem. Kewaspadaan ekstra diperlukan pada komoditas yang masih merangkak naik, seperti daging sapi dan gula pasir, agar inflasi pangan tidak menggerus kesejahteraan warga di tengah situasi "Godzilla El Nino" yang menantang ini.