Konsumsi rumah tangga Indonesia tercatat hanya tumbuh 5,52% secara tahunan (yoy) pada triwulan I-2026. Padahal, menurut data BPS, komponen pengeluaran rumah tangga masih menjadi kontributor utama terhadap perekonomian nasional dengan sumbangan mencapai 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada periode tersebut.
Di sisi lain, lonjakan harga energi global akibat konflik geopolitik turut menekan daya beli masyarakat. Data Investing mencatat, hingga Kamis (7/5) pukul 20.28 WIB, harga minyak berjangka Brent telah mencapai US$ 97,47 per barel atau naik 60,44% sepanjang 2026.
Menurut laporan LPEM FEB UI bertajuk “Indonesia Economic Outlook, Q2-2026”, proporsi pengeluaran energi rumah tangga Indonesia mencapai 8,3% dari total pengeluaran pada 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Jepang, Afrika Selatan, dan sejumlah negara maju lainnya, sehingga kenaikan harga energi dinilai semakin membebani anggaran rumah tangga.
LPEM FEB UI juga menemukan bahwa kelas menengah dan calon kelas menengah menjadi kelompok yang paling terdampak kenaikan harga energi. Pangsa konsumsi energi kelas menengah tercatat mencapai 8,86% dari total pengeluaran, sedangkan calon kelas menengah sebesar 8,18%.
Kondisi tersebut menunjukkan kedua kelompok berpotensi menanggung beban proporsional terbesar akibat kenaikan harga energi maupun reformasi subsidi energi. Selain memiliki tingkat konsumsi energi yang tinggi, kelompok ini umumnya juga tidak tercakup dalam program bantuan sosial sehingga lebih rentan menghadapi tekanan biaya hidup.
Selain kelas menengah, kelompok masyarakat lainnya juga menghadapi tekanan serupa. LPEM FEB UI mencatat, pangsa pengeluaran energi kelompok atas mencapai 7,15%, kelompok rentan sebesar 7,07%, dan kelompok miskin 6,28%. Meski persentasenya lebih rendah, rumah tangga miskin dinilai tetap rentan karena memiliki ruang penyesuaian belanja yang lebih sempit dan ketergantungan lebih besar terhadap energi bersubsidi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi memperlemah konsumsi rumah tangga dan menekan pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.