Sektor manufaktur masih menjadi penopang utama perekonomian nasional pada triwulan I-2026. Menurut data BPS, industri pengolahan berkontribusi sebesar 19,07% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dari total kontribusi tersebut, sebesar 17,41% berasal dari industri pengolahan nonmigas yang menjadi motor utama aktivitas manufaktur nasional.
Dalam kategori manufaktur nonmigas, industri makanan dan minuman menjadi subsektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia. BPS mencatat, subsektor ini menyumbang hingga 7,31% terhadap PDB nasional pada triwulan I-2026. Tingginya kontribusi tersebut menunjukkan industri makanan dan minuman masih menjadi tulang punggung manufaktur domestik di tengah tantangan ekonomi global.
Selain industri makanan dan minuman, subsektor kimia dan farmasi juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 1,85% terhadap PDB Indonesia. Selanjutnya, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik menyumbang sebesar 1,66%.
Industri alat angkutan berkontribusi sebesar 1,2%, sedangkan kontribusi logam dasar mencapai 1,14%. Di sisi lain, industri tekstil dan pakaian jadi turut memberikan kontribusi sebesar 1% terhadap PDB nasional.
BPS juga mencatat, subsektor kertas dan barang dari kertas, pengolahan tembakau, barang galian bukan logam, serta kayu dan barang dari kayu masuk dalam jajaran 10 subsektor manufaktur nonmigas dengan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia.
Dominasi sektor manufaktur menunjukkan industri pengolahan masih memegang peranan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.