Industri pengolahan atau manufaktur masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional pada triwulan I-2026. Melansir data BPS, distribusi produk domestik bruto (PDB) sektor manufaktur mencapai 19,07% terhadap total PDB Indonesia. Meski menjadi penyumbang terbesar, pertumbuhan sektor ini tercatat hanya sebesar 5,04% dan belum masuk dalam 5 besar lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut.
Dari sisi perdagangan internasional, kinerja ekspor manufaktur sepanjang Januari-Maret 2026 masih tumbuh terbatas. BPS mencatat, nilai ekspor industri manufaktur mencapai US$ 54,98 miliar atau naik 3,95% secara tahunan (yoy).
Walaupun pertumbuhannya relatif tipis, sektor manufaktur tetap mendominasi ekspor nasional. Pangsa ekspor manufaktur terhadap total ekspor Indonesia mencapai 82,2% pada triwulan I-2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 79,4%.
Di tengah dominasi kontribusinya terhadap PDB dan ekspor nasional, industri manufaktur masih menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja. Data BPS menunjukkan, hingga Februari 2026, serapan tenaga kerja sektor manufaktur hanya mencapai 13,57%. Angka tersebut memang meningkat tipis dibanding Februari 2025 yang sebesar 13,45%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa industri manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dari sisi kontribusi PDB dan ekspor. Namun, pertumbuhan sektor ini belum sepenuhnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja secara signifikan. Ke depan, penguatan hilirisasi industri dan ekspansi investasi manufaktur dinilai penting agar sektor ini mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih luas.