Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61% yoy pada triwulan I-2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi yakni mencapai 21,81% yoy.
Menurut BPS, lonjakan tersebut dipicu peningkatan realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 atau THR, serta kenaikan belanja barang dan jasa pemerintah terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain konsumsi pemerintah, impor juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 7,18%. Kenaikan impor terjadi seiring meningkatnya harga barang-barang impor akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu krisis suplai migas global. Di sisi lain, konsumsi LNPRT tumbuh 6,28% yoy. Konsumsi LNPRT merupakan pengeluaran Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat.
BPS juga mencatat, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh sebesar 5,96% yoy, sedangkan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama PDB pengeluaran meningkat 5,52% yoy. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada kelompok restoran dan hotel yang naik 7,38% seiring meningkatnya aktivitas wisata selama liburan yang tercermin dari kenaikan perjalanan wisatawan nusantara. Sementara itu, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 6,91% didorong tingginya mobilitas masyarakat melalui peningkatan jumlah penumpang angkutan rel, laut, dan udara.
Pada komponen PMTB, pertumbuhan tertinggi terjadi pada subkomponen kendaraan yang melonjak 12,39%. Subkomponen mesin dan perlengkapan juga tumbuh 10,78% sejalan dengan meningkatnya impor barang modal jenis mesin serta belanja pemerintah untuk peralatan dan mesin. BPS menyebut, pertumbuhan PMTB juga didukung peningkatan realisasi investasi BKPM sebesar 7,22%. Di sisi lain, pertumbuhan ekspor cenderung melambat dan hanya mencapai 0,90%.