Laporan terbaru World Economic Outlook April 2026 yang dirilis oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan adanya tren moderasi pada pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi melambat menjadi 3,1% pada tahun 2026 sebelum sedikit menguat ke angka 3,2% pada 2027. Perlambatan ini terutama dipicu oleh performa kelompok ekonomi maju (advanced economies) yang tumbuh terbatas di level 1,8%, di mana negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan kawasan Euro mengalami tekanan pertumbuhan yang signifikan. Sebaliknya, kelompok negara berkembang (emerging market and developing economies) masih menjadi motor penggerak utama dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 3,9% pada 2026. Di kawasan regional, Asia Timur dan Selatan tetap menunjukkan performa paling impresif dengan rata-rata pertumbuhan mendekati 5 %, didorong oleh kekuatan ekonomi India yang stabil di angka 6,5 % serta China yang diprediksi tumbuh sebesar 4,4 % meski menghadapi tantangan struktural internal.
Melengkapi data global tersebut, The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan sorotan khusus terhadap prospek ekonomi Indonesia yang harus menghadapi tekanan eksternal cukup dinamis sepanjang tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan mengalami revisi ke bawah menjadi 4,8% dari capaian 5,1% pada tahun 2025, yang dipicu oleh guncangan harga energi global serta ketidakpastian perdagangan internasional yang meningkat. Selain perlambatan laju pertumbuhan, Indonesia juga dihadapkan pada ancaman inflasi yang diperkirakan melonjak tajam hingga menyentuh angka 3,4% dari sebelumnya hanya 1,9%. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor kunci yang mendongkrak harga minyak dunia, yang secara langsung menekan daya beli rumah tangga dan meningkatkan beban biaya produksi bagi industri domestik mengingat posisi Indonesia sebagai importir neto energi.
Meskipun dihantui oleh risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, stabilitas ekonomi domestik Indonesia dinilai masih cukup tangguh dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Stimulus fiskal yang konsisten dijalankan pemerintah berperan penting dalam menjaga konsumsi sektor swasta agar tetap stabil di tengah guncangan global. Kabar positif muncul dari penyesuaian struktur tarif perdagangan global yang memberikan sedikit ruang napas bagi pasar berkembang untuk tetap kompetitif di pasar ekspor. OECD memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan kembali menemukan momentum pemulihan pada tahun 2027 dengan pertumbuhan yang diproyeksikan merangkak naik ke level 5,0% seiring dengan meredanya tekanan inflasi dan normalisasi rantai pasok global. Keberhasilan navigasi kebijakan dalam menjaga keseimbangan antara dukungan fiskal dan pengendalian harga energi akan menjadi penentu utama bagi Indonesia untuk tetap kompetitif di tengah perlambatan ekonomi global yang diperkirakan tertahan di level 2,9%.