Lonjakan harga energi global membawa dampak berbeda bagi negara-negara ASEAN tergantung kapasitas fiskal dan kemampuan masing-masing negara dalam merespons guncangan ekonomi. Melansir data Investing pada Senin (4/5) pukul 20.00 WIB, harga minyak berjangka Brent telah mencapai US$ 110,64 per barel. Kenaikan tersebut memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi di kawasan Asia Tenggara.
Naiknya harga minyak berdampak langsung terhadap kenaikan biaya BBM dan energi yang kemudian meningkatkan ongkos transportasi, manufaktur, pertanian, hingga rantai pasok industri. Data East Asia & Pacific Economic Update (EAP) menunjukkan, kenaikan harga minyak mentah sebesar US$ 20 diperkirakan mendorong inflasi Thailand dan Filipina masing-masing sebesar 0,67 dan 0,62 poin persentase dalam waktu 6 bulan. Sementara Malaysia dan Indonesia mencatat dampak yang lebih moderat karena adanya subsidi energi dan pengaturan harga domestik.
EAP menilai, Thailand, Laos, dan Kamboja menjadi negara paling rentan akibat tekanan impor energi serta keterbatasan ruang fiskal. Laos dan Thailand menghadapi tekanan lebih besar karena tingginya utang pemerintah yang membatasi kemampuan negara dalam meredam dampak krisis energi. Sebaliknya, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia dinilai memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menyerap guncangan berkat cadangan strategis energi, kapasitas kilang domestik, serta pendapatan ekspor komoditas yang menjadi penyangga alami.
Data EAP juga menunjukkan, Laos mencatatkan utang bruto pemerintah tertinggi di ASEAN, yaitu mencapai 81% terhadap PDB. Selain Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Malaysia juga memiliki rasio utang pemerintah di atas 60% terhadap PDB. Di sisi lain, Indonesia masih berada di zona hijau dengan rasio utang pemerintah sebesar 41% terhadap PDB.
Namun, dari sisi saldo fiskal, Indonesia tetap menghadapi kerentanan dengan defisit fiskal mencapai 2,9% terhadap PDB. Meski begitu, angka tersebut masih lebih rendah dibanding Filipina, Myanmar, Malaysia, dan Vietnam yang mencatat defisit fiskal di atas ambang 3% terhadap PDB. Sementara itu, Timor Leste menjadi negara dengan defisit fiskal terdalam, yaitu mencapai 49% terhadap PDB.
Ke depan, jika harga energi terus meningkat dan memicu inflasi berkepanjangan, sejumlah negara ASEAN kemungkinan perlu menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat guna menjaga stabilitas ekonomi domestik.