Sejumlah negara di Asia Tenggara mencatatkan angka inflasi relatif tinggi sehingga berpotensi membatasi ruang kebijakan moneter dalam merespons dampak dari geopolitik global. Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Myanmar mencatat inflasi sekitar 20% per Februari 2026, sementara Laos berada di atas 6%.
Kondisi ini kontras dengan Thailand yang mengalami deflasi, sehingga memiliki fleksibilitas kebijakan yang lebih besar. Secara umum, bank sentral dengan ekspektasi inflasi yang terjaga memiliki ruang lebih luas untuk merespons lonjakan harga energi. Namun, jika terjadi lonjakan harga berkepanjangan, pengetatan kebijakan moneter menjadi tidak terhindarkan, terutama di negara dengan tekanan inflasi yang sudah tinggi.
Dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan aktivitas ekonomi sangat bergantung pada tingkat paparan, kerentanan, serta ruang kebijakan masing-masing negara. Kenaikan harga minyak berkontribusi dalam kenaikan inflasi, salah satunya menyebabkan naiknya harga bahan bakar yang masuk ke indeks harga konsumen, di mana energi menyumbang sekitar 5% dalam inflasi. Kedua, kontribusi tak langsung melalui peningkatan biaya input di sektor transportasi, manufaktur, dan pertanian yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara luas.
Dari sisi ekonomi riil, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi, menekan margin perusahaan, serta mengurangi daya beli rumah tangga. Dampaknya adalah perlambatan output dan konsumsi. Lebih lanjut, kenaikan harga minyak sebesar US$ 20 berpeluang meningkatkan inflasi di Thailand dan Filipina masing-masing sekitar 0,67 dan 0,62 poin persentase dalam enam bulan. Sementara itu, Malaysia dan Indonesia cenderung mengalami dampak yang lebih moderat karena adanya subsidi dan pengaturan harga domestik.
Dampak terhadap produksi industri menunjukkan pola serupa, dengan penurunan output di hampir seluruh kawasan, terutama di Thailand dan Filipina. Selain itu, kenaikan harga energi juga berdampak regresif terhadap kesejahteraan, karena rumah tangga berpendapatan rendah mengalokasikan porsi pengeluaran yang lebih besar untuk energi dan transportasi. Kondisi ini berpotensi memperlambat penurunan kemiskinan serta meningkatkan jumlah penduduk rentan.
Di Asia Tenggara, perkembangan inflasi pada 2026 menunjukkan variasi yang beragam antarnegara. Secara umum, inflasi relatif terkendali di sebagian besar negara. Myanmar mencatat inflasi tertinggi sebesar 20%, mencerminkan tekanan ekonomi yang berat. Laos dan Indonesia juga mencatat inflasi relatif lebih tinggi, masing-masing sebesar 6% dan 5%.
Sementara itu, Vietnam berada pada level moderat sebesar 3%, diikuti Filipina dan Malaysia di kisaran 2%, serta Kamboja yang relatif rendah di 1%. Thailand menjadi satu-satunya negara yang mengalami deflasi 1%, yang mengindikasikan lemahnya permintaan domestik.
Secara keseluruhan, inflasi di Asia Tenggara pada 2026 cenderung tetap terkendali, meskipun risiko dari kenaikan harga energi global dan ketidakpastian ekonomi masih membayangi.