Konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus meluas mulai berdampak pada industri petrokimia global, termasuk Indonesia. Gangguan pasokan nafta, bahan baku utama dalam produksi plastik, memicu kelangkaan dan mendorong kenaikan harga plastik secara signifikan di dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena ketergantungan pasokan nafta dari negara-negara Timur Tengah.
Kementerian Perdagangan menyebut bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta masih cukup tinggi, sehingga setiap gangguan pasokan langsung berdampak pada sektor industri. Ketidakstabilan ini membuat industri plastik domestik menghadapi tekanan, terutama dari sisi biaya produksi yang meningkat akibat lonjakan harga bahan baku.
Di sisi lain, permintaan plastik di Indonesia masih cukup besar. OECD dalam laporan bertajuk ‘Regional Plastics Outlook for Southeast and East Asia’ pada 2025 mengungkapkan bahwa penggunaan plastik terbesar di Indonesia berasal dari sektor kemasan, yakni mencapai 31% dari total konsumsi plastik. Selain itu, sektor tekstil dan transportasi masing-masing menyumbang 17% dan 14% terhadap total konsumsi.
Sementara itu, konsumsi plastik pada produk konsumer dan konstruksi tercatat sebesar 11% dan 7%. Adapun konsumsi plastik pada elektronik dan mesin serta ban kendaraan masing-masing di bawah 10% dari total penggunaan plastik. Struktur permintaan ini menunjukkan bahwa gangguan pasokan plastik berpotensi berdampak luas ke berbagai sektor industri di Indonesia.