Pasar modal global mengalami guncangan hebat imbas krisis energi yang memicu koreksi tajam di sejumlah bursa negara berkembang. Berdasarkan laporan JP Morgan 2026, Bulgaria mencatatkan performa terburuk dengan penurunan mencapai 18%. Angka ini menempatkan Bulgaria di posisi puncak daftar negara dengan pasar saham paling terdampak selama krisis berlangsung.
Indonesia berada di peringkat kedua dengan kontraksi pasar saham sebesar 15%, angka yang serupa dengan penurunan yang dialami oleh Peru. Meski demikian, laporan tersebut memberikan catatan khusus bahwa anjloknya indeks di Indonesia tidak semata-mata dipicu oleh guncangan harga energi global. Faktor internal seperti distorsi indeks dan sentimen ketidakpastian hukum domestik disinyalir memiliki peran yang lebih dominan dalam memperparah pelemahan bursa saham nasional.
Melengkapi daftar lima besar, Afrika Selatan mencatatkan penurunan sebesar 12%, disusul oleh Meksiko dan Vietnam yang masing-masing mengalami pelemahan sebesar 10%. Penurunan di berbagai negara ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar terhadap dinamika geopolitik. Metrik ini menunjukkan bahwa kerentanan ekonomi suatu negara saat ini sangat bergantung pada kombinasi antara stabilitas politik dalam negeri dan ketahanan terhadap tekanan eksternal.