Moody’s Ratings menurunkan prospek 19 perusahaan Indonesia dari stabil menjadi negatif, menyusul revisi outlook sovereign Indonesia menjadi negatif dengan peringkat tetap di level Baa2. Keputusan tersebut diumumkan dalam sejumlah pernyataan terpisah pada Jumat (6/2). Moody’s menilai meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor utama perubahan outlook tersebut.
Untuk sektor non-keuangan, perusahaan yang terdampak antara lain PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Telekomunikasi Selular, dan PT United Tractors Tbk. (UNTR). Sementara itu, dari sektor perbankan, prospek negatif diberikan kepada BBCA, BMRI, BBNI, BBRI, serta BBTN.
Di segmen multifinance dan lembaga pembiayaan, Moody’s juga merevisi outlook PT Astra Sedaya Finance, PT Federal International Finance, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Tiga BUMN lainnya yang turut terdampak ialah PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.
Moody’s menyatakan outlook negatif pada sovereign mencerminkan menurunnya prediktabilitas dan ketidakpastian kebijakan dalam setahun terakhir. Jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi berpotensi tergerus. Meski demikian, sejumlah emiten seperti TLKM, PGAS, ICBP, dan UNTR dinilai masih memiliki fundamental kuat, likuiditas memadai, serta posisi pasar dominan. Outlook dapat kembali stabil apabila prospek sovereign membaik dan kualitas kredit korporasi tetap terjaga.