Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade. Afirmasi ini menjadi hasil akhir asesmen setelah kunjungan Moody’s ke Jakarta pada 27-29 Januari 2026, menandakan posisi kredit Indonesia masih dinilai layak dan relatif aman.
Meski demikian, Moody’s menurunkan outlook peringkat dari stabil menjadi negatif. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait kondisi fiskal. Pada 2025, defisit APBN tercatat melebar hingga 2,9%, melampaui target 2,5% dan memicu kekhawatiran sebagian kalangan akan potensi tembusnya batas 3% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
Penyesuaian outlook tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan. Rupiah, obligasi, dan saham menjadi lebih sensitif, di tengah IHSG yang baru saja bangkit dari tekanan perubahan indeks MSCI. Pada pembukaan sesi II Senin (9/2), IHSG tercatat pulih ke level 8.012,82, sementara yield SBN tenor 10 tahun turun ke 6,32% pada Februari, lebih rendah dibandingkan 6,91% pada periode yang sama tahun lalu.
Moody’s menekankan pentingnya konsistensi kebijakan, kejelasan komunikasi publik, serta koordinasi antarlembaga. Di saat yang sama, penguatan basis penerimaan negara dinilai krusial untuk menopang belanja prioritas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pemerintah menyambut positif afirmasi Baa2 ini dan menegaskan komitmen menjaga stabilitas makro, mengelola risiko fiskal, serta mendorong investasi. Optimisme tersebut ditopang kinerja ekonomi yang membaik sejak semester II 2025, termasuk pertumbuhan PDB triwulan IV 2025 sebesar 5,39% yang melampaui ekspektasi pasar.
Selain Moody’s, dua lembaga pemeringkat global lainnya, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings, juga menempatkan Indonesia pada level BBB. Peringkat ini menunjukkan Indonesia masih memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi kewajiban keuangannya, meski tetap rentan terhadap tekanan ekonomi dan gejolak eksternal. Kategori BBB mencerminkan status investment grade tingkat menengah-bawah dengan profil risiko moderat, sehingga kepercayaan investor tetap terjaga, namun disiplin kebijakan dan stabilitas makro menjadi faktor kunci agar peringkat tersebut tidak tergerus ke depan.