Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat setelah sejumlah lembaga pemeringkat global memberikan penilaian negatif terhadap Indonesia. Rangkaian sentimen tersebut memicu gejolak pasar saham domestik dan mendorong aksi jual besar-besaran dalam beberapa hari perdagangan.
Pada 28 Januari 2026, MSCI memutuskan menghentikan sementara proses penyesuaian indeks saham Indonesia. Langkah ini diambil karena kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham serta kualitas data free float. Dampaknya, IHSG merosot 7,35% ke level 8.320,55 pada perdagangan Rabu (28/1) hingga Bursa menghentikan sementara perdagangan (trading halt) di sesi II.
Tekanan berlanjut sehari setelahnya. Pada 29 Januari, Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, sementara UBS memangkas rating menjadi netral. Kedua lembaga tersebut menilai ketidakpastian regulasi dan hasil rebalancing MSCI masih membayangi pasar. IHSG pun kembali terperosok 8% ke level 7.654 pada Kamis pagi (29/1) dan kembali memicu trading halt.
Gelombang sentimen negatif belum mereda. Pada 5 Februari, Moody’s merevisi outlook utang Indonesia menjadi negatif dengan peringkat tetap Baa2, mencerminkan kekhawatiran atas tata kelola dan konsistensi kebijakan. IHSG turun 0,53% ke 8.103,88 pada Kamis (5/2) dan kembali melemah ke 7.945 saat pembukaan Jumat (6/2), terkoreksi 158 poin dari penutupan sebelumnya.