Indonesia menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi dunia. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis energi sekaligus memperbesar tekanan fiskal, dengan defisit anggaran diperkirakan melampaui 3% seiring kenaikan harga minyak.
Sebagai respons, pemerintah mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Pada Desember 2025, dalam acara Indonesia-Spain Renewable Energy Seminar bertajuk “Collaboration on Smart Grid and Biomass for a Just Energy Transition”, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmen menuju target net zero emission (NZE) melalui pengembangan EBT.
Hingga 2025, pengembangan EBT difokuskan pada tiga program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yakni PLTS atap, PLTS skala utilitas di lahan bekas tambang, serta PLTS terapung seperti yang telah beroperasi di Waduk Cirata yang menjadi PLTS terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi surya berbasis komunitas melalui program seperti solar ice maker, solar water pump, dan solar powering for tourism untuk sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Dalam rencana jangka menengah 2025-2035, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42 GW serta 10 GW penyimpanan energi. Komposisi pembangkit EBT tersebut meliputi 70 GW tenaga surya, 11 GW hidro, dan 7 GW angin. Ke depan, pada 2030, bauran energi diproyeksikan meningkat signifikan seiring pengembangan PLTS sejak 2025, sekaligus mulai mengembangkan hidrogen dan amonia melalui National Hydrogen dan Ammonia Roadmap yang mencakup kajian, uji coba proyek, dan penyusunan regulasi.
Selanjutnya, pada 2032 Indonesia ditargetkan mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Dalam jangka panjang, pada periode 2045 hingga 2060, Indonesia menargetkan menjadi pemain utama di pasar hidrogen dan amonia hijau global. Dengan dukungan PLTN yang semakin berkembang, kapasitas energi nuklir ditargetkan mencapai 44 GW yang terdiri dari 35 GW PLTN konvensional dan 9 GW untuk produksi hidrogen.