Konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu tekanan besar di pasar energi global. Gangguan distribusi di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia menyebabkan harga minyak global melonjak hingga menembus US$ 100 per barel, memperbesar risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Kondisi ini turut berdampak pada Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Untuk merespons tekanan tersebut, pemerintah mempercepat peralihan menuju energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Berdasarkan laporan Kementerian ESDM, perkembangan bauran EBT nasional menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pada 2015, porsi EBT tercatat sebesar 4,97% dengan dominasi energi fosil mencapai 95,03%. Angka bauran EBT kemudian melonjak 216,9% menjadi 15,75% pada 2025, sementara porsi energi fosil turun menjadi sekitar 84,25%.
Selain itu, dalam kurun 10 tahun terakhir, bauran energi fosil berhasil ditekan hingga 11,34%. Sejak 2020, kontribusi energi fosil bahkan sudah berada di bawah 90%. Pencapaian ini sejalan dengan rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT terbesar dalam lima tahun terakhir yang mencapai 15,63 GW, menunjukkan akselerasi nyata dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.
Pada sektor ketenagalistrikan, realisasi bauran EBT juga melampaui target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Hingga 2025, bauran EBT telah mencapai 16,3%, lebih tinggi dari target RUKN sebesar 15,9%. Kinerja ini turut didukung oleh investasi di subsektor EBT dan Konservasi Energi (EBTKE) yang mencapai US$ 2,4 miliar hingga 2025.