Ketegangan berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat memicu krisis energi global, terutama akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Kondisi ini mendorong harga minyak global melonjak hingga menembus US$ 100 per barel, sehingga meningkatkan tekanan terhadap pasokan energi global.
Dampak tersebut turut dirasakan Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Sebagai respons, pemerintah mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi EBT Indonesia sangat besar dan didominasi energi surya yang mencapai 3.315 GW pada 2025. Wilayah Sumatera menyumbang sekitar 36% dari total potensi energi surya nasional. Selain itu, energi angin mencapai 154,58 GW dan energi air sebesar 95,05 GW, dengan potensi energi angin terbesar berada di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara yang mencapai sekitar 40% dari total nasional. Untuk energi air, potensi terdiri dari run of river sebesar 94,63 MW dan reservoir sebesar 423 MW.
Di sisi lain, potensi bioenergi juga cukup signifikan dengan biomassa sebesar 53,43 GW dan biogas 2,29 GW. Sumatera mendominasi potensi biomassa sekitar 54%, sementara Jawa memiliki potensi biogas terbesar sekitar 64%. Adapun energi panas bumi mencapai 23,77 GW dengan sekitar 40% berada di Sumatera yang tersebar di 101 lokasi. Sementara itu, potensi energi arus laut mencapai 16,54 GW yang terdiri dari 10,74 GW teoretikal, 4,30 GW teknikal, dan 1,50 GW praktikal yang tersebar di 8 provinsi.