Konflik di Iran yang mengganggu jalur distribusi energi global mulai memberikan tekanan signifikan terhadap cadangan energi fosil di seluruh dunia. Gangguan di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia turut menyebabkan harga minyak mentah global melonjak bahkan menyentuh US$100 per barel. Kondisi ini memberi tekanan lebih besar bagi negara yang masih bergantung pada impor minyak dan memiliki diversifikasi sumber energi yang terbatas, termasuk Indonesia.
Merespons potensi krisis energi, pemerintah Indonesia mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Adapun salah satu langkah strategis adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) yang sedang diupayakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selain tenaga surya, pengembangan EBT juga mencakup sumber lain seperti panas bumi (geothermal) dan tenaga air untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Upaya percepatan ini juga didukung melalui pembentukan Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi yang dipimpin langsung oleh Menteri ESDM. Presiden menugaskan percepatan pembangunan PLTS sebagai bagian dari strategi memperluas elektrifikasi berbasis energi bersih dan mendorong pemanfaatan sumber daya domestik secara optimal.
Di sisi lain, sejumlah negara telah lebih dulu melakukan transformasi energi sebagai respons terhadap risiko krisis energi global. China misalnya, telah menggelontorkan investasi EBT sebesar US$ 625 miliar pada 2024 lalu atau hampir sepertiga dari total investasi global. Selain itu, negeri Tirai Bambu tersebut telah memiliki kapasitas pembangkit EBT sebesar 366 TWh yang mampu menekan penggunaan bahan bakar fosil hingga 2%.
Tak hanya China, Australia juga telah memulai transisi ke EBT dengan memasang 4 juta panel surya atap dengan kapasitas melebihi pembangkit batu bara. Negara ini juga menjalankan skema capacity investment scheme (CIS) untuk menambah kapasitas hingga 3 GW yang mampu memenuhi kebutuhan listrik 1 juta rumah. Sementara itu, Islandia memanfaatkan EBT untuk memenuhi 90% kebutuhan energi utama, dengan 100% listrik berasal dari tenaga hidro dan geothermal. Negara ini juga memiliki 5 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP yang menyuplai 24% kebutuhan listrik nasional.