Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membawa ancaman serius bagi perekonomian Indonesia, terutama melalui lonjakan harga minyak mentah dunia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang melayani 20–30% perdagangan minyak global. Terganggunya jalur ini dipastikan akan menekan rantai pasok energi internasional dan memicu volatilitas harga di pasar global.
Kondisi ini menjadi alarm bagi Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Dalam lima tahun terakhir, impor BBM Indonesia melonjak drastis hingga mencapai 31,95 juta kilo liter (kl) pada 2024, atau naik 60,31% sejak 2020. Saat ini, porsi impor memenuhi sekitar 40% dari total kebutuhan domestik, sebuah angka yang menunjukkan kerentanan signifikan terhadap gejolak eksternal.
Tren konsumsi pun terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan rata-rata mencapai 232,42 ribu kl per hari hingga September 2025. Dengan estimasi nilai impor BBM tahun 2025 berada di kisaran 24–25 juta kl, tekanan terhadap ketahanan energi nasional diprediksi akan terus meningkat. Kondisi ini mendesak diperlukannya strategi penguatan cadangan nasional serta efisiensi konsumsi yang lebih masif.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa meskipun stok energi global terancam akibat ketegangan AS-Iran, posisi Indonesia saat ini masih relatif aman. Ia menjelaskan bahwa cadangan minyak Indonesia masih berada di kisaran 21 hingga 28 hari, yang menurutnya masih memenuhi standar minimal ketahanan energi nasional.