Lebaran 2026 diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal I-2026 di tengah tekanan global, khususnya lonjakan harga energi. Data Investing mencatat, pada Rabu (18/3) pukul 17.19 WIB, harga minyak mentah Brent mencapai US$ 103,32/barel, seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Meski tekanan eksternal meningkat, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap menjadi motor penggerak ekonomi domestik. Momentum Lebaran dinilai mampu mendorong pertumbuhan produk domestik bruto pada kuartal I-2026, didukung oleh peningkatan belanja masyarakat di berbagai sektor.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan konsumsi rumah tangga selama Lebaran 2026 meningkat sekitar 10-15%. Sementara itu, perputaran uang di sektor makanan dan minuman, pakaian, transportasi, serta pariwisata daerah diproyeksikan berada di kisaran Rp 148-160 triliun. Lebih lanjut, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai, aktivitas konsumsi tetap terjaga meskipun dibayangi kenaikan harga energi global.
Selain itu, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 50-70%, didukung tingkat okupansi hotel, vila, dan penginapan yang mencapai 80-90% selama periode Lebaran. Kementerian UMKM mencatat bahwa setiap pengeluaran pemudik di daerah memiliki efek pengganda sebesar 1,6 hingga 1,8 kali. Artinya, setiap Rp 1 triliun yang dibelanjakan dapat menghasilkan output ekonomi sebesar Rp 1,6 triliun hingga Rp 1,8 triliun di daerah.
Dampak ini mendorong aktivitas di sektor transportasi, makanan dan minuman, pakaian, serta akomodasi dan pariwisata di berbagai daerah. Faktor pendorong juga datang dari berbagai stimulus pemerintah, penyaluran THR bagi PNS dan pegawai swasta, diskon transportasi dan belanja, serta bonus hari raya bagi pengemudi ojek online. Namun, CORE Indonesia mengingatkan bahwa tekanan harga energi dan kenaikan harga barang tetap menjadi faktor yang berpotensi menahan laju konsumsi lebih lanjut.