Eskalasi militer Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai menimbulkan dampak terhadap ketahanan pangan global. Ketegangan di kawasan Teluk Persia hingga Selat Hormuz mengganggu jalur transportasi utama pupuk dunia, termasuk sekitar sepertiga ekspor urea global yang melintas di wilayah tersebut.
Situasi ini terjadi ketika negara-negara di belahan bumi utara memasuki musim semi, periode dengan permintaan pupuk yang tinggi. Adapun ekonom StoneX menyebut kondisi ini sebagai skenario terburuk karena lonjakan harga terjadi di saat kebutuhan pupuk sedang meningkat. Dalam beberapa hari terakhir, harga urea di pasar New Orleans tercatat melonjak hingga US$ 520-550 per short ton.
Ekonom Commonwealth Bank menilai dampak konflik ini berpotensi lebih berat bagi petani dibanding krisis pangan pada awal perang Rusia-Ukraina. Pasalnya, kenaikan biaya pupuk tidak diikuti peningkatan harga hasil panen, sehingga margin keuntungan petani semakin tertekan.
Ketergantungan impor pupuk dari kawasan Teluk membuat sejumlah negara turut terdampak, termasuk Australia dan Indonesia. Di Indonesia, petani sawit mulai mengantisipasi kenaikan harga pupuk karena komponen ini menyerap sekitar 60% biaya produksi. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, produksi pangan global dikhawatirkan dapat menurun pada akhir 2026.