Dalam satu bulan terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia harus menghadapi ketidaknyamanan akibat gelombang pemadaman listrik massal (blackout) maupun pemadaman bergilir. Berdasarkan data yang dihimpun, krisis kelistrikan ini melanda Pulau Sumatera hingga menyebar ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa sepanjang akhir Mei hingga Juni 2026.
Krisis ini bermula pada Jumat, 22 Mei 2026, ketika pemadaman listrik skala besar melanda hampir seluruh wilayah Pulau Sumatera, mulai dari Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh. Pemadaman yang berlangsung hingga Minggu (24/5) tersebut berdampak langsung pada sekitar 13,1 juta pelanggan.
Menurut PT PLN (Persero), gangguan dipicu oleh cuaca buruk yang memengaruhi ruas transmisi 275 kilovolt (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi. Gangguan pada satu titik krusial tersebut kemudian memicu efek domino yang menyebabkan gangguan berantai pada sistem kelistrikan interkoneksi Sumatera.
Belum mereda dampak pemadaman di Sumatera, Pulau Jawa kemudian mengalami pemadaman bergilir pada awal Juni. Pada 8 Juni 2026, sejumlah wilayah seperti Bogor, Tangerang Raya, Kota Semarang, hingga beberapa area di Jawa Timur mengalami pemadaman secara bergantian.
Dalam beberapa hari berikutnya, pemadaman listrik masih dilaporkan terjadi secara sporadis di berbagai wilayah dengan durasi berkisar antara 3 hingga 6 jam. PLN mengonfirmasi bahwa gangguan di Jawa dipicu oleh gangguan teknis pada dua pembangkit listrik besar yang dioperasikan oleh Independent Power Producer (IPP), sehingga harus keluar sementara dari sistem kelistrikan Jawa. Selain itu, gangguan pasokan batu bara berkalori menengah (medium range coal) juga turut memengaruhi pasokan energi listrik.
Sementara itu, PLN menyampaikan bahwa kondisi sistem kelistrikan di Pulau Jawa mulai membaik sehingga pemadaman bergilir dapat diminimalkan, seiring dengan mulai normalnya pasokan energi primer yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pembangkit.