Gelombang aksi unjuk rasa serentak pada Rabu (28/10) tidak seluruhnya berlangsung kondusif. Di Yogyakarta, Jakarta, dan Tasikmalaya, demonstrasi berujung pada gesekan fisik antara massa dan aparat keamanan. Faktor pemicu kericuhan bervariasi di tiap daerah, mulai dari provokasi kelompok tidak dikenal, upaya menerobos barikade petugas, hingga luapan kekecewaan akibat pemerintah daerah terlambat menemui massa.
Berdasarkan pemantauan media tim DATASATU, kawasan Malioboro, Yogyakarta, memanas setelah sekelompok massa tak dikenal menyusup dan menyulut provokasi. Kericuhan tak terhindarkan saat lemparan batu dan petasan menyasar barisan aparat, disertai pembakaran barikade jalan. Petugas kepolisian merespons dengan mengerahkan mobil meriam air (water cannon) guna memukul mundur kerumunan ke arah Jalan Perwakilan dan depan Gedung DPRD DIY hingga situasi terkendali jelang larut malam.
Dalam penanganan insiden di Yogyakarta, polisi mengamankan sejumlah orang untuk pendataan dan identifikasi. Salah seorang di antaranya terbukti membawa senjata tajam. Pemeriksaan medis oleh tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) kepolisian juga mendapati bahwa sebagian besar dari mereka yang diamankan berada di bawah pengaruh minuman keras.
Di Jakarta, ketegangan bermula saat massa mendesak barikade pengamanan untuk merangsek masuk ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Aksi saling dorong sempat diwarnai penahanan seorang demonstran yang tak lama kemudian dilepaskan kembali ke barisan aksi. Situasi semakin memanas memasuki malam hari ketika massa membakar pembatas jalan plastik (water barrier) di Jalan Jenderal Sudirman hingga kobaran api menutup badan jalan. Tim DATASATU mencatat aparat kepolisian menangkap 19 orang di sekitar Bundaran HI, dengan barang bukti sitaan berupa petasan, senjata tajam, dan cat semprot vandalisme, serta mendapati keterlibatan anak di bawah umur.
Sementara itu, kericuhan di Tasikmalaya dipicu oleh kemarahan massa lantaran perwakilan pemerintah daerah tak kunjung hadir menemui mereka di depan Gedung DPRD Kota Tasikmalaya. Aksi saling dorong yang terjadi di pintu masuk mengakibatkan gerbang barat gedung dewan roboh dan rusak. Perwakilan pemerintah baru bersedia membuka ruang dialog setelah para demonstran berhasil menduduki halaman gedung. Berbeda dengan dua kota lainnya, pihak berwenang di Tasikmalaya melaporkan nihilnya penangkapan demonstran selama aksi berlangsung.