Musim kemarau panjang kembali memicu krisis air bersih di berbagai wilayah Indonesia. Penurunan debit air permukaan serta mengeringnya sumur warga memaksa ribuan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan air harian untuk memasak, mandi, hingga konsumsi.
Di Jawa Barat, kemarau berdampak signifikan pada Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Bogor. Warga Desa Pilangsari di Majalengka harus menempuh jarak 1,5 hingga 2,5 kilometer dan rela mengantre sejak pagi demi mendapatkan air dari sumur pompa alternatif. Sementara itu, di Kabupaten Bogor, krisis air melanda sedikitnya 16.291 keluarga atau sekitar 52.602 jiwa yang tersebar di wilayah Citeureup, Megamendung, dan Sukajaya.
Kondisi serupa dialami warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pendangkalan Sungai Grindulu serta mengeringnya sumur bantuan membuat pasokan air makin kritis di Kecamatan Pacitan, Punung, dan Donorojo. Tak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, kekeringan di daerah ini juga merusak ladang pertanian dan mengancam pasokan pakan ternak warga.
Ancaman kekeringan turut meluas ke Provinsi Banten dan Kalimantan Tengah. Di Kabupaten Tangerang, sebanyak lima kecamatan mulai mengajukan permohonan bantuan air, dengan pemetaan potensi kekeringan yang diperkirakan bisa meluas hingga 20 kecamatan. Sementara di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, empat desa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit mulai kesulitan air akibat kemarau yang diprediksi BMKG dapat berlangsung hingga lima bulan.