Fenomena tanah amblas atau sinkhole kerap melanda berbagai kawasan jalan raya di Indonesia akibat kerusakan infrastruktur bawah tanah. Berdasarkan data media monitoring, sejumlah wilayah di tanah air seperti Tangerang, Surabaya, Bogor, hingga Jakarta Selatan tercatat pernah mengalami peristiwa ini. Mayoritas penyebab utama sinkhole di Indonesia adalah kebocoran pipa PDAM dan rusaknya saluran drainase yang diperparah oleh tingginya intensitas hujan. Peristiwa terbaru terjadi di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada 28 Mei 2026, yakni adanya kebocoran pipa air mengakibatkan amblasnya jalan sedalam 3 meter dan memaksa penutupan sementara arus lalu lintas menuju Depok.
Dampak yang ditimbulkan dari fenomena ini sangat signifikan terhadap kelancaran fasilitas publik dan keselamatan warga. Di dalam negeri, insiden sinkhole terbesar melanda Jalan Raya Gubeng, Surabaya pada 2018 dengan diameter lebih dari 15 meter akibat kesalahan konstruksi dinding galian basement rumah sakit, yang menyebabkan jalan terputus total dan alat berat terjatuh. Selain memicu kemacetan parah dan pengalihan rute kendaraan seperti yang terjadi di Jalan Daan Mogot dan Jalan Bouraq Tangerang, kerusakan serupa juga mengancam keselamatan para pengendara yang melintas.
Tidak hanya di Indonesia, fenomena sinkhole berskala masif juga kerap terjadi di berbagai belahan dunia dengan dampak kerusakan yang jauh lebih fatal. Di Fukuoka, Jepang, pekerjaan konstruksi terowongan bawah tanah memicu lubang amblas raksasa sedalam 15 meter yang memutus aliran listrik, gas, dan air bersih kota. Sementara itu, kasus paling mematikan terjadi di Guatemala City pada 2010, di mana badai tropis dan sistem drainase yang buruk menciptakan sinkhole sedalam 60 meter yang menelan bangunan tiga lantai serta merenggut korban jiwa.