Indonesia makin mengukuhkan posisinya sebagai raja nikel dunia. Berdasarkan data World Population Review dan Statista tahun 2024, Indonesia mencatatkan produksi nikel mencapai 2,20 juta ton. Angka ini menyumbang hingga 61,3% dari total produksi nikel secara global.
Porsi Indonesia jauh melampaui negara-negara produsen lainnya. Filipina berada di posisi kedua dengan produksi 0,33 juta ton (9,2%), disusul Rusia sebesar 0,21 juta ton (5,8%), Kanada 0,19 juta ton (3,5%), dan China 0,12 juta ton (3,3%).
Tren dominasi ini diperkirakan terus berlanjut. Mengutip laporan The International Nickel Study Group (INSG), produksi tambang nikel dunia secara keseluruhan tumbuh 1,8% pada 2024, serta diproyeksikan melonjak 8,9% pada 2025 dan 7,8% pada 2026.
INSG mencatat pangsa produksi tambang Indonesia berpotensi naik menjadi sekitar 66% pada 2025 dan menyentuh 68% pada 2026. Pesatnya pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi cepat fasilitas pengolahan (smelter) berkat dukungan investasi China, baik untuk produk antara maupun produk olahan primer seperti nickel pig iron (NPI), nikel sulfat, hingga nikel katoda. Sebagai pemuncak produsen nikel olahan primer dunia sejak 2021, volume produksi nikel olahan Indonesia diproyeksikan melebihi 2,1 juta ton pada 2026.