Rentetan bencana tanah longsor dan banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Sumatera menunjukkan adanya pergeseran pola iklim akibat pemanasan global, sehingga intensitas dan frekuensi bencana kian meningkat.
Sejalan dengan itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dari sekitar 3.233 kejadian bencana alam sepanjang 2025, sebanyak 98% berkaitan langsung dengan krisis iklim.
Banjir tercatat sebagai bencana paling sering terjadi dengan 1.652 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 714 kejadian dan kebakaran hutan serta lahan mencapai 546 kejadian.
Tanah longsor juga tercatat sebanyak 233 kejadian, sementara bencana lain seperti kekeringan, abrasi, gempa bumi, hingga tsunami jumlahnya relatif lebih kecil. Pola ini menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor utama di balik meningkatnya risiko bencana di Indonesia.