Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendata adanya dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Sulawesi dan sekitarnya pada 2 April 2026. Guncangan tektonik ini memicu peringatan dini tsunami dan menyebabkan dampak bervariasi di sejumlah titik di Sulawesi Utara serta Maluku Utara. Berdasarkan data pada laman resmi BMKG, intensitas guncangan tertinggi dirasakan di wilayah Batang Dua dengan skala IV-V MMI yang membuat hampir seluruh penduduk terbangun, diikuti oleh Ternate pada skala IV MMI yang memicu kepanikan warga hingga berlarian ke luar rumah.
Dampak tsunami tercatat melanda 9 wilayah pesisir dengan ketinggian gelombang yang beragam. Minahasa Utara menjadi wilayah terdampak tsunami paling signifikan dengan ketinggian air mencapai 0,75 meter pada pukul 06:18 WIB. Disusul kemudian oleh wilayah Belang dengan tinggi gelombang 0,68 meter. Sementara itu, wilayah lain seperti Sidangoli, Halmahera Barat, dan Gita mencatatkan kenaikan permukaan laut antara 0,24 hingga 0,35 meter. Gelombang tsunami kecil juga terdeteksi di Bitung, Sitaro, Kedi, dan Bumbulan dengan ketinggian di bawah 0,20 meter.
Selain dampak gelombang, BMKG juga merinci intensitas guncangan di beberapa titik lainnya yang berada pada skala II-III MMI, termasuk di Belang, Manado, dan Minahasa. Pada level ini, getaran dirasakan secara nyata oleh beberapa orang di dalam rumah dan ditandai dengan benda gantung yang bergoyang. Meski beberapa wilayah terdampak tsunami seperti Sidangoli hingga Bumbulan tidak menyertakan data spesifik intensitas guncangan dari BMKG, pemantauan terus dilakukan guna memastikan keamanan warga di wilayah terdampak gempa dan tsunami tersebut.