Serangan berulang kelompok Houthi dan meluasnya konflik di Timur Tengah meningkatkan tekanan ekonomi di sejumlah negara, mulai dari pelemahan pasar saham dan penurunan pasokan minyak Arab Saudi hingga krisis pangan di Yaman serta risiko kenaikan biaya impor energi dan pupuk Bangladesh.
Di Arab Saudi, indeks acuan saham melemah 0,7% pada 12 Oktober setelah serangan terbaru di Bandara Riyadh menekan sentimen investor. Pasokan minyak mentah negara tersebut juga turun 2,3 juta barel per hari (bph) secara bulanan menjadi 6 juta bph pada Agustus 2026, level terendah dalam lebih dari tiga dekade. Sementara itu, IMF memproyeksikan ekonomi Arab Saudi terkontraksi 3,3% pada 2026 di tengah tekanan konflik regional dan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Di Yaman, kembali berkobarnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah memicu krisis pengungsian. Jumlah pengungsi meningkat dari 76.000 orang pada pertengahan September menjadi lebih dari 200.000 orang per 7 Oktober 2026. Kondisi kemanusiaan juga memburuk, dengan Program Pangan Dunia (WFP) PBB melaporkan bahwa tiga dari empat keluarga di sejumlah wilayah mengalami kelaparan.
Sementara itu, Bangladesh menghadapi risiko kenaikan biaya impor energi dan pupuk. Arab Saudi merupakan pasar tenaga kerja luar negeri terbesar sekaligus sumber remitansi utama bagi Bangladesh. Konflik berkepanjangan berpotensi menekan pendapatan dan kesempatan kerja pekerja migran Bangladesh, sekaligus mengganggu pasokan minyak mentah akibat risiko terhadap fasilitas produksi, terminal ekspor, pelabuhan, dan jalur pelayaran regional. Gangguan tersebut dapat meningkatkan harga impor serta menambah tekanan inflasi di Bangladesh.