Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas dalam kurun waktu 18 hingga 20 September 2026 melalui rangkaian serangan udara yang saling berbalas. Ketegangan bermula pada Jumat (18/9) ketika militer Rusia meluncurkan serangan ke sejumlah kawasan di Ukraina. Serangan tersebut menewaskan dua warga di Balakliia, Kharkiv, serta mengarahkan tembakan rudal ke ibu kota Kyiv. Pada hari yang sama, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi adanya serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk di wilayah Rusia. Mengutip laporan Euronews, fasilitas tersebut dipastikan tetap beroperasi normal dan terhindar dari kebakaran, meskipun terkena serangan.
Gempuran Rusia terus berlanjut hingga Sabtu (19/9) dan memicu korban jiwa dari kalangan warga sipil. Serangan udara di Fastiv, wilayah Kyiv, merenggut nyawa seorang ibu bersama dua anaknya. Di Sumy, sebuah drone Rusia menghantam kendaraan roda empat dan menewaskan empat orang warga sipil. Serangan drone Rusia juga menyasar kompleks biara di Kherson yang menyebabkan satu rohaniwan meninggal dunia serta empat orang lainnya luka-luka.
Memasuki Minggu (20/9), Ukraina melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan melepaskan lebih dari 1.000 drone, termasuk pengerahan rudal dan drone jarak jauh Flamingo serta Pelican. Sebanyak 450 unit drone dilaporkan berhasil dicegat saat melaju menuju Moskow. Dampak serangan ini merusak tiga unit penting di kilang minyak utama Moskow di Kapotnya, membakar fasilitas logistik, dan merusak sejumlah pemukiman warga. Peristiwa di kawasan Moskow tersebut menewaskan seorang pria berusia 74 tahun dan wanita berusia 44 tahun, serta melukai 20 orang lainnya. Di Kherson, seorang petugas pemilu turut dilaporkan tewas akibat serangan terhadap sebuah bus. Insiden gempuran ini juga memaksa operasional penerbangan di Bandara Sheremetyevo dan Vnukovo dibatasi serta dihentikan sementara waktu.
Aksi saling serang ini bertepatan dengan hari terakhir penyelenggaraan pemilu parlemen Rusia, yang juga digelar di Krimea serta empat wilayah pendudukan Ukraina. Pihak Moskow menuding gelombang serangan Kyiv bertujuan untuk mengacaukan jalannya pesta demokrasi tersebut. Di sisi lain, duka di Ukraina bertambah setelah seorang anak yang terluka akibat serangan hari Sabtu di Vyshhorod, Kyiv, dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.