Rusia terus memperkuat posisi sebagai eksportir utama teknologi nuklir melalui serangkaian proyek strategis di berbagai negara. Di Vietnam, pemerintah resmi menghidupkan kembali ambisi nuklirnya dengan menandatangani perjanjian pembangunan PLTN Ninh Thuan 1 yang menggunakan reaktor VVER-1200 sebagai fondasi kemandirian energi nasional. Sementara itu, proyek El Dabaa di Mesir mencatatkan kemajuan signifikan dengan keterlibatan 25.000 pekerja dan pemasangan reactor pressure vessel pertama pada November 2025, yang didukung oleh pinjaman negara Rusia sebesar USD 25 miliar.
Di sisi lain, kerja sama nuklir ini menghadapi tantangan besar akibat sanksi Barat, terutama pada proyek Akkuyu di Turki dan Rooppur di Bangladesh. Untuk mengatasi hambatan finansial dan boikot komponen, Turki dan Rusia menyepakati mekanisme pendanaan kreatif melalui pembayaran gas domestik oleh BOTAŞ serta pembukaan peluang bagi investor asing baru. Bangladesh juga melakukan langkah serupa dengan mengalihkan pembayaran utang ke mata uang Yuan dan Ruble, guna memastikan proyek tetap berjalan meski terjadi transisi pemerintahan dan tekanan ekonomi global.
Kemitraan di kawasan Asia menunjukkan pola yang semakin kompleks antara kolaborasi dan kompetisi. India tetap menjadi sekutu setia dengan melanjutkan pembangunan unit 3-6 di Kudankulam dan menjajaki teknologi reaktor modular (SMR) bersama Rosatom. Di saat yang sama, hubungan Rusia dan Tiongkok berkembang ke arah pengembangan reaktor cepat dan pengelolaan limbah nuklir. Meski Rusia masih memegang peran senior dalam teknologi, Tiongkok kini mulai bertransformasi menjadi pesaing kuat di pasar nuklir internasional, mencerminkan pergeseran kekuatan dalam diplomasi energi global.