Parade Kemenangan atau Victory Day yang diperingati setiap 9 Mei merupakan simbol ketangguhan Rusia dalam mengenang kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman pada 1945. Meskipun penandatanganan penyerahan Jerman dilakukan pada 8 Mei malam di Berlin, perbedaan zona waktu menjadikan tanggal 9 Mei sebagai hari bersejarah bagi Moskow. Menariknya, perayaan ini tidak langsung menjadi hari libur nasional hingga tahun 1965, di mana pada era Uni Soviet parade militer terhitung sangat jarang dilakukan dan lebih berfokus pada peringatan Revolusi Oktober.
Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin sejak 2008, parade ini bertransformasi menjadi agenda tahunan megah yang berfungsi sebagai alat propaganda domestik sekaligus unjuk kekuatan militer. Narasi perayaan kini bergeser dari sekadar penghormatan korban dengan pesan perdamaian menjadi semangat patriotisme yang lebih agresif. Tradisi ikonik seperti pawai kendaraan tempur, barisan Resimen Abadi yang membawa foto leluhur, serta penggunaan Pita St. George berwarna oranye-hitam kini menjadi elemen wajib yang mendominasi setiap sudut Lapangan Merah.
Secara global, parade ini menjadi panggung diplomatik bagi Rusia untuk mempererat aliansi dengan negara mitra seperti China, Brasil, dan Korea Utara guna menyeimbangkan dominasi Barat. Namun, di balik kemegahan alutsista yang dipamerkan, tersimpan makna simbolisme yang mendalam mengenai pengorbanan bangsa. Uni Soviet kehilangan sekitar 27 juta jiwa selama Perang Patriotik Raya, sebuah angka kehilangan masif yang hingga kini tetap meninggalkan luka mendalam bagi psikis nasional dan identitas rakyat Rusia.