Ketegangan di Selat Hormuz memunculkan pola diplomasi selektif oleh pihak Iran terhadap kapal-kapal mancanegara. Hingga awal April 2026, sejumlah negara Asia tercatat telah mengamankan izin perlintasan melalui kesepakatan bilateral dan diplomasi tingkat tinggi. Filipina, Pakistan, India, dan Malaysia berhasil menjamin keamanan armada mereka setelah melakukan komunikasi langsung antar-pemerintah. Sementara itu, Tiongkok dan Irak memanfaatkan kedekatan hubungan strategis sebagai pembeli energi utama dan mitra regional untuk tetap mengoperasikan kapal mereka di jalur krusial tersebut.
Oman memegang peran unik dengan mengelola salah satu dari dua jalur perlintasan yang masih terbuka melalui koordinasi langsung dengan Tehran. Di sisi lain, negara-negara yang memiliki keterkaitan dengan Barat mulai menunjukkan pergerakan meski dengan status yang lebih kompleks. Kapal kontainer CMA CGM Kribi asal Prancis dan kapal LNG milik Mitsui OSK Lines dari Jepang tercatat telah melintas. Keberhasilan perlintasan kapal-kapal ini diduga kuat merupakan hasil dari seruan gencatan senjata yang konsisten disuarakan oleh para pemimpin negara tersebut serta negosiasi ad hoc pihak perusahaan.
Turki menjadi negara terbaru yang mengonfirmasi keamanan armadanya di wilayah tersebut. Pemerintah Turki secara resmi menyatakan bahwa dua kapal mereka telah meninggalkan selat dengan aman pada 3 April 2026 berkat jalur diplomasi yang efektif dengan Iran. Secara keseluruhan, perlintasan di Selat Hormuz kini sangat bergantung pada kemampuan tiap negara dalam menavigasi hubungan diplomatik dengan otoritas Iran, di mana kepatuhan pada rute pesisir dan sistem pra-persetujuan menjadi syarat mutlak demi menghindari risiko militer.