Wacana restrukturisasi besar-besaran di dunia pendidikan tinggi Indonesia mulai mengemuka seiring dengan pernyataan Plt Sekjen Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, yang menegaskan perlunya kebijakan untuk menutup program studi (prodi) yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri. Berdasarkan media monitoring Tim Riset DATASATU, Badri menyoroti fenomena mismatch yang mengkhawatirkan, di mana sekitar 60% prodi saat ini masih didominasi oleh bidang ilmu sosial dan keguruan yang mengalami surplus lulusan secara masif.
Sebagai ilustrasi, setiap tahun Indonesia meluluskan sekitar 490 ribu sarjana pendidikan, padahal kapasitas pasar kerja hanya mampu menyerap sekitar 20 ribu tenaga pendidik. Ketimpangan yang mencapai 470 ribu lulusan ini menciptakan bom waktu berupa pengangguran terdidik yang dapat menghambat momentum bonus demografi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Kekhawatiran pemerintah terhadap relevansi pendidikan ini menemukan realitasnya dalam data seleksi masuk perguruan tinggi terbaru. Berdasarkan data resmi panitia SNPMB 2026, prodi berbasis sains, teknik, dan kesehatan masih menjadi primadona utama, sejalan dengan prioritas nasional. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB memimpin dengan 2.022 pendaftar, disusul ketat oleh Pendidikan Dokter UI dan Kedokteran UGM yang masing-masing menarik hampir 2 ribu pelamar.
Namun, dominasi rumpun kesehatan ini bak pedang bermata dua. Meski sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat sektor medis, Badri memberikan catatan kritis bahwa tanpa distribusi tenaga kerja yang merata ke daerah, profesi dokter pun berisiko mengalami oversupply pada tahun 2028. Anomali serupa terlihat pada rumpun sosial. Meski pemerintah menyatakan bidang ini surplus, minat masyarakat tetap tinggi. Sebagai contoh, prodi Hukum Universitas Diponegoro masih mencatatkan persaingan sangat ketat dengan hanya menerima 184 pendaftar dari total 1.530 pelamar, menunjukkan adanya jeda (gap) antara preferensi publik dan kebutuhan rill pasar kerja.
Di sisi lain, terdapat sejumlah program studi yang kini berada di ‘zona merah’ karena minimnya peminat, yang memperkuat urgensi kebijakan ‘pilih, pilah, dan tutup’ yang diwacanakan Kemendikti. Masih merujuk pada data resmi panitia SNPMB 2026, prodi seperti Sastra Jawa di UI hanya memiliki 64 peminat dengan daya tampung 16 kursi, sementara prodi Masase di Universitas Negeri Surabaya bahkan hanya mencatatkan 23 peminat.
Selain itu, prodi di kampus-kampus satelit, seperti Peternakan PSDKU Pangandaran UNPAD dan PGPAUD Kampus Serang UPI, juga harus berjuang keras menarik minat calon mahasiswa. Kehadiran prodi dengan peminat di bawah angka 100, termasuk Pendidikan Bahasa Prancis dan Seni Rupa Murni, menjadi tantangan tersendiri bagi rektorat untuk segera mengkaji ulang relevansi akademik sekaligus nilai ekonominya di tengah transformasi industri yang cepat.