Penyaluran bahan bakar biodiesel B50 di Indonesia terus mencatatkan kemajuan pesat menjelang penerapan penuh pada Oktober 2026. Data terkini menunjukkan sebanyak 94% atau sekitar 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina telah menyalurkan B50 kepada masyarakat. Sementara itu, 6% sisanya atau sekitar 362 SPBU masih berada dalam masa transisi menghabiskan stok B40 sebelum batas akhir relaksasi pada 30 September 2026.
Secara volume, penyaluran B50 kini telah mencapai sekitar 3,40 juta kiloliter (KL). Angka ini melengkapi realisasi penyaluran B40 periode Januari hingga Juli 2026 yang sebesar 7,27 juta KL, sehingga total bahan bakar nabati yang telah beredar di tanah air menyentuh 10,69 juta KL. Untuk menjamin kelancaran pasokan, pemerintah memperkirakan kebutuhan minyak kelapa sawit olahan atau FAME berada di kisaran 16,8 hingga 18,0 juta KL sepanjang tahun 2026.
Distribusi bahan bakar ramah lingkungan ini sudah menjangkau hampir seluruh wilayah nusantara dengan tingkat kesiapan yang bervariasi. Wilayah Jawa Bagian Barat memimpin kesiapan SPBU sebesar 99%, disusul Jawa Bagian Tengah dengan 98%. Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus), Sumatra Bagian Utara, serta Sulawesi kompak mencatatkan tingkat penyaluran 96%. Adapun Kalimantan berada di angka 95%, Sumatra Bagian Selatan 93%, serta Maluku dan Papua mencapai 65%.
Penerapan B50 di berbagai sektor pengguna juga menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Uji teknis untuk kendaraan bermotor, alat dan mesin pertanian, alat berat tambang, kapal laut, hingga mesin pembangkit listrik atau genset dinyatakan telah rampung sepenuhnya. Saat ini, pengujian hanya menyisakan sektor perkeretaapian yang masih berjalan sebelum program B50 resmi berjalan penuh di seluruh Indonesia.