Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00% pada Rabu (16/9) waktu setempat. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan disetujui secara bulat oleh 12 anggota pemilih Federal Open Market Committee (FOMC). Kenaikan ini merupakan kenaikan pertama The Fed sejak 2023.
The Fed menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi, sementara aktivitas ekonomi AS tetap tumbuh dengan solid. Dalam pernyataannya, The Fed menyebut kebijakan kenaikan suku bunga diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target 2% secara lebih tepat waktu. The Fed juga menilai ketidakpastian ekonomi masih tinggi, antara lain akibat perkembangan geopolitik.
Kenaikan September 2026 tersebut menambah 25 bps pada suku bunga acuan dibandingkan posisi Agustus 2026 sebesar 3,75%. Jika dibandingkan dengan September 2021 yang berada pada 0,25%, suku bunga The Fed telah meningkat 375 bps atau 3,75 percentage points dalam lima tahun.
Pergerakan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam arah kebijakan moneter AS. Pada 2021, The Fed mempertahankan suku bunga pada level sangat rendah sebesar 0,25%. Kebijakan mulai diperketat pada Maret 2022, ketika suku bunga dinaikkan menjadi 0,50%. Setelah itu, kenaikan dilakukan secara bertahap dan mencapai 5,50% pada Juli 2023, yang kemudian dipertahankan hingga Agustus 2024.
The Fed kemudian mulai menurunkan suku bunga pada September 2024 hingga 5,00%, dilanjutkan menjadi 4,75% pada November 2024 dan 4,50% pada Desember 2024. Suku bunga bertahan di level tersebut hingga Agustus 2025 sebelum kembali diturunkan secara bertahap hingga 3,75% pada Desember 2025.
Namun, tren pelonggaran tersebut berbalik pada September 2026. The Fed menaikkan suku bunga menjadi 3,75%–4,00%, sekaligus membuka ruang bagi pengetatan lebih lanjut. Proyeksi terbaru FOMC menunjukkan median suku bunga federal funds pada akhir 2026 berada di sekitar 4,1%, sementara proyeksi inflasi PCE 2026 dinaikkan menjadi 3,7%, jauh di atas target 2%.
Dengan demikian, arah kebijakan The Fed pada September 2026 menunjukkan bahwa pengendalian inflasi kembali menjadi perhatian utama, meskipun aktivitas ekonomi AS masih relatif kuat. Sinyal tersebut juga meningkatkan kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama dan berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global melalui penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta penyesuaian harga berbagai aset.