Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memegang peran krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dari masa ke masa. Sejak masa kepresidenan Megawati Soekarnoputri hingga era Prabowo Subianto, kursi bendahara negara telah diisi oleh sederet tokoh berlatar belakang akademisi, praktisi perbankan, hingga birokrat berpengalaman dengan rekam jejak pendidikan tinggi dari kampus dalam dan luar negeri.
Pada era Presiden Megawati, Boediono memimpin Kementerian Keuangan periode 2001–2004. Melansir laman resmi Kemenkeu, lulusan doktoral Wharton School University of Pennsylvania ini berhasil merumuskan paket Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Negara, mengakhiri program kerja sama dengan IMF, serta menekan rasio utang publik. Kepemimpinan kemudian beralih ke Jusuf Anwar pada 2004–2005 di awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Birokrat senior lulusan Universitas Padjadjaran dan Vanderbilt University ini berfokus menangani defisit anggaran, menata penerimaan negara, dan mengelola utang luar negeri.
Sri Mulyani Indrawati kemudian memegang tongkat estafet pada 2005–2010. Doktor ekonomi lulusan University of Illinois Urbana-Champaign ini memodernisasi tata kelola internal Kemenkeu, memperkuat disiplin anggaran, memangkas biaya utang, hingga dinobatkan sebagai Menkeu Terbaik Asia sebelum berkarier di Bank Dunia. Posisinya digantikan oleh praktisi perbankan Agus D.W. Martowardojo pada 2010–2013, yang mempelopori nilai-nilai kerja kementerian, sensus pajak, serta efisiensi subsidi energi. Menjelang akhir periode pemerintahan SBY, Muhamad Chatib Basri meneruskan kepemimpinan pada 2013–2014 dengan fokus menjaga daya tahan anggaran dari gejolak ekonomi global berbasis kajian data yang matang.
Memasuki era Presiden Joko Widodo, Bambang P.S. Brodjonegoro menjabat pada 2014–2016 guna menjaga stabilitas anggaran serta membenahi keuangan daerah. Sri Mulyani kemudian dipanggil kembali memimpin Kemenkeu dari 2016 hingga 2025 melintasi tiga periode kabinet. Pada periode lanjutan ini, ia memandu ketahanan fiskal Indonesia melewati krisis pandemi, memimpin agenda reformasi pajak, dan kembali menerima predikat menteri keuangan terbaik dunia.
Estafet kepemimpinan berlanjut pada Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo Subianto. Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Ketua Dewan Komisioner LPS berpendidikan doktoral Purdue University, dipercaya menjabat pada 2025–2026 untuk mengawal sektor riil dan sinergi investasi nasional. Sejak 14 September 2026, kepemimpinan Kemenkeu resmi dilanjutkan oleh Suahasil Nazara, akademisi dan mantan Wakil Menteri Keuangan yang kini mengemban misi memimpin pengelolaan fiskal, pemerataan anggaran daerah, serta percepatan penuntasan kemiskinan nasional.