Pasar komoditas pangan global mengalami guncangan harga sepanjang sepuluh tahun terakhir. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) periode 2016 hingga 2026 memperlihatkan pergeseran signifikan, mulai dari fase harga stabil, lonjakan rekor imbas krisis global, hingga tekanan inflasi pangan yang kembali menguat menjelang akhir dekade ini.
Pada 2016 hingga 2020, indeks harga pangan global relatif terkendali di bawah angka 100. Angka indeks bergerak dari 92,0 pada 2016 menjadi 98,1 pada 2020. Titik balik terjadi pada 2021 saat harga pangan melompat ke level 125,7, sebelum akhirnya meledak dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi 144,5 pada 2022. Memasuki 2023 dan 2024, tensi pasar sempat mereda dengan indeks yang melandai masing-masing ke angka 124,5 dan 122,0. Namun, fase tersebut berlangsung singkat setelah indeks kembali menanjak ke level 127,2 pada 2025 dan rata-rata berjalan hingga Agustus 2026 menyentuh 129,3.
Pergerakan indeks sepuluh tahun ini dipicu fluktuasi tajam di lima sektor komoditas utama. Minyak nabati menjadi komoditas dengan eskalasi harga paling masif, dari posisi 99,40 pada 2016, menyentuh rekor 187,80 pada 2022, dan kembali terbang ke rata-rata 186,20 pada 2026. Komoditas daging juga konsisten merangkak naik, dari level 91,10 pada 2016 hingga mencapai rekor tertinggi di angka 128,30 pada 2026.
Di sisi lain, indeks serealia atau biji-bijian yang sempat menyentuh level kritis 154,70 pada 2022 mulai tertekan ke posisi 111,50 pada 2026, meski masih lebih tinggi dibandingkan posisi awal dekade di angka 88,30. Produk susu mencatatkan puncak harga pada 2022 di angka 149,50 dan 146,70 pada 2025, sebelum merosot ke level 119,10 pada 2026. Sementara itu, komoditas gula yang sempat melonjak ke level 145,00 pada 2023 terkoreksi tajam ke angka 93,00 pada rata-rata 2026.
Tekanan harga pada penutup periode sepuluh tahun ini semakin nyata memasuki paruh kedua 2026. Pada Agustus 2026, indeks harga pangan bulanan melesat ke level 133,3 poin, naik 1,9% secara bulanan dan 2,5% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan terjadi serempak di seluruh lini komoditas.
Gula memimpin lonjakan bulanan dengan kenaikan drastis 11,9% ke level 106,4 poin pada Agustus 2026. FAO menyebut, kenaikan harga ini dipicu ancaman defisit pasokan akibat cuaca panas ekstrem di Uni Eropa dan Brasil, sisa dampak El Niño di Asia, serta kebijakan pembukaan keran impor gula mentah bebas bea oleh India. Indeks serealia turut menguat 2,2% ke posisi 116,3 poin menyusul kenaikan gandum dunia sebesar 2,6% akibat hambatan logistik Laut Hitam dan kekeringan di Eropa, serta kenaikan jagung sebesar 2,5% imbas kemarau di Amerika Serikat dan disrupsi rantai pasok pascapenutupan Selat Hormuz.
Sementara itu, indeks minyak nabati terus menanjak ke level 196,9 poin per Agustus 2026, naik 0,6% sekaligus mencatatkan rekor tertinggi sejak Juni 2022 akibat ketatnya stok minyak sawit dan kedelai. Indeks daging juga terangkat 1,0% ke level 127,9 poin seiring mahalnya unggas Brasil dan babi Eropa, serta produk susu yang naik 2,3% ke angka 119,2 poin imbas menyusutnya pasokan susu segar di Uni Eropa.