Indonesia memiliki elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap kesempatan kerja yang relatif tinggi di sektor manufaktur dibandingkan sejumlah negara Asia.
Melansir laporan World Bank bertajuk “GDP-Employment Elasticities across Developing Economies” yang dirilis pada Desember 2024, elastisitas sektor manufaktur Indonesia mencapai 0,804, lebih tinggi dibandingkan Vietnam (0,665), Malaysia (0,067), dan China (0,133).
World Bank menjelaskan bahwa hasil tersebut diperoleh berdasarkan data PDB berbagai negara Asia pada periode 2000 hingga 2016. Meski demikian, nilai elastisitas yang dihasilkan tidak selalu menggambarkan kondisi pada satu tahun tertentu.
Dalam riset tersebut, pertumbuhan tenaga kerja hasil prediksi dibandingkan dengan pertumbuhan tenaga kerja aktual pada periode 2012-2016. Selain itu, kemampuan prediksi elastisitas tahunan rata-rata yang dihitung menggunakan data lebih baru dari periode 2000-2011 turut diuji.
Meski demikian, keunggulan Indonesia pada sektor manufaktur tidak diikuti oleh sektor jasa maupun pertanian. World Bank mencatat elastisitas PDB terhadap kesempatan kerja Indonesia di sektor jasa hanya sebesar 0,176, lebih rendah dibandingkan China yang mencapai 0,334, Malaysia sebesar 0,603, dan Thailand sebesar 0,663.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja di sektor jasa Indonesia relatif lebih lemah dibandingkan sejumlah negara pembanding.
Sementara itu, pada sektor pertanian juga terdapat sejumlah negara yang mencatatkan nilai elastisitas negatif. Indonesia memiliki nilai sebesar -0,004, sedangkan Malaysia dan China masing-masing mencatat -0,043 dan -0,418.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun manufaktur Indonesia memiliki elastisitas relatif tinggi dalam, hubungan pertumbuhan ekonomi dengan penyerapan tenaga kerja dapat berbeda terhadap sektor lainnya.