Kebijakan Presiden Prabowo Subianto memangkas biaya sewa aplikasi atau komisi ojek online (ojol) maksimal menjadi 8% disambut gembira oleh para pengemudi. Langkah nyata pemerintah yang diambil bertepatan dengan momentum Hari Buruh 2026 ini secara langsung mendongkrak pendapatan bersih yang bisa dibawa pulang oleh para driver ojol di lapangan setelah sekian lama dibebani potongan besar.
Berdasarkan data simulasi harian dari Tim Riset DATASATU, jika seorang pengemudi ojol memperoleh total pendapatan kotor sebesar Rp200.000 dalam sehari, besaran potongan aplikasi yang dikenakan dengan tarif skema 8% adalah Rp16.000. Dengan demikian, pengemudi bisa membawa pulang pendapatan bersih sebesar Rp184.000 per hari. Angka ini dinilai jauh lebih berpihak kepada kesejahteraan pengemudi dibandingkan skema potongan 20% yang sebelumnya jamak diterapkan oleh aplikator.
Di sisi lain, simulasi tersebut juga membandingkan potensi jika potongan ditekan lebih rendah lagi ke angka 6%. Pada skema potongan tarif 6% dengan pendapatan kotor harian yang sama yakni Rp200.000, nilai potongan aplikator hanya menyentuh Rp12.000, sehingga pendapatan bersih yang dikantongi driver naik menjadi Rp188.000.
Meskipun persentase potongan hanya terpaut 2%, simulasi ini menunjukkan adanya selisih pendapatan bersih yang cukup krusial bagi pekerja informal. Melalui skema potongan tarif 6%, driver ojol dapat membawa pulang uang Rp4.000 lebih banyak dalam sehari dibandingkan skema potongan 8%. Jika diakumulasikan selama sebulan penuh, selisih kecil tersebut sangat berdampak signifikan untuk membantu menutup biaya operasional harian pengemudi seperti pembelian bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan kendaraan.