Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 ditargetkan berada pada kisaran 5,8%-6,5%. Target tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI pada Rabu, 20 Mei 2026
Adapun angka tersebut lebih tinggi dibanding asumsi dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4%. Menurut Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027, pemerintah juga menetapkan target inflasi pada kisaran 1,5%-3,5%, lebih rendah dibanding target APBN 2026 sebesar 2,5%.
Selain itu, asumsi nilai tukar rupiah dipatok di rentang Rp 16.800-Rp 17.500 per US$, lebih tinggi dibanding asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per US$. Penyesuaian asumsi nilai tukar dilakukan seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang 2026. Data kurs hingga Rabu, 21 Mei 2026 pukul 17.23 WIB menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.652 per US$. Dengan posisi tersebut, rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 5,86% sepanjang 2026.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan target suku bunga SBN 10 tahun pada kisaran 6,5%-7,3% pada 2027. Pada sektor energi, lifting minyak ditargetkan mencapai 602 ribu-615 ribu barel per hari, meningkat dibanding target APBN 2026 yang sebesar 610 ribu barel per hari. Sementara lifting gas diproyeksikan berada pada kisaran 934 ribu-977 ribu barel setara minyak per hari pada 2027, lebih rendah dibanding target APBN 2026 yang mencapai 948 ribu barel setara minyak per hari.